| MAKALAH PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP | BIOPORI | ||||||||
OLEH:
KELOMPOK 3
·
YUSRIANI
GADING
·
HASNINTANG
·
HERANI
·
IMRAN
·
BASO
·
MUHADI RAHMAT
·
MUHAMMAD
NASIR
·
ARJUNA
·
SYAMSUL LAPPE
KATA
PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, maka
kami bisa menyelesaikan tugas pembuatan RPP mengenai “Konservasi Air” dengan
materi “Biopori” . Semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menjadikan referensi
bagi kita sehinga kita dapat belajar memahami tugas mengajar untuk
menjadi seorang guru.
Harapan kami sebagai penyusun, hendaknya makalah sederhana
ini dapat berdaya guna dan bermanfaat untuk dipraktekkann dalam kehidupan
sehari-hari.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa,
pelajar, umum khususnya pada diri kami sendiri dan semua yang membaca makalah
ini semoga bisa di pergunakan dengan semestinya
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Banjir merupakan musuh tahunan warga di sejumlah daerah di
tanah air. Pembukaan lahan, perataan tanah untuk pembangunan pemukiman dan
prasarana lainnya mengakibatkan pemadatan tanah, berkurangnnya sumber bahan
organik tanah, serta rusaknya liang-liang bekas penembusan dan galian fauna
tanah.
Pada saat pembangunan sebagian permukaan lahan dipadatkan
untuk bangunan dan prasarana jalan. Hal ini mengakibatkan sebagian besar air
hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah, tetapimengalir ke permukaan tanah dan
dibuang melalui saluran drainase. Buruknya saluran pembuangan air (drainase)
serta menurunnya daya serap tanah akibat pembangunan mengakibatkan banjir.
Guna menanggulangi masalah banjir tersebut, Ir. Kamir R.
Brata, MSc., dosen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor,
menemukan teknologi sederhana yang disebutnya teknologi biopori. Ide pembuatan
biopori muncul pada saat beliau meneliti bongkahan tanah kawasan hutan
konservasi di Sumatra. Pada bongkahan itu terdapat ratusan lubang mirip
terowongan yang berbentuk pori-pori. Lubang-lubang itu dibuat oleh semut, rayap,
cacing, dan akar tanaman.
Satu bongkahan seukuran buah kelapa mengandung ratusan
lubang yang menyerap air dikala hujan. Penelitian lebih lanjut menunjukkan
adanya lubang tak kasatmata yang terdapat pada bongkahan, berupa ratusan lubang
biopori. Lubang-lubang ini berfungsi menyerap air, menyaring air bersih,
mengurai sampah organik, serta menjaga unsur hara pada tanah.
Lubang-lubang biopori akan terisi udara, dan akan menjadi
tempat berlalunya air dalam tanah. Bila lubang-lubang seperti ini dibuat dalam
jumlah banyak maka kemampuan sebidang tanah untuk meresapkan air akan
meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil
peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah. Hal ini akan mengurangi
bahaya banjir yang mungkin terjadi.
Peningkatan jumlah biopori dapat dilakukan dengan membuat
lubang vertikal di dalam tanah. Lubang-lubang tersebut diisi dengan bahan-bahan
organik seperti daun-daun kering, potongan rumput, atau tanaman, serta sampah
organik rumah tangga. Bahan-bahan organik ini dijadikan sumber energi bagi
organisme hidup di dalam tanah. Peningkatan aktivitas organisme tersebut akan
meningkatkan jumlah biopori yang terbentuk.
Lubang biopori merupakan teknologi sederhana untuk
konservasi lahan dan penyediaan air bersih. Lubang ini dikembangkan atas dasar
prinsip ekohidrologis, yaitu memperbaiki kondisi ekosistem tanah untuk
perbaikan fungsi hidrologis ekosistem tersebut. Teknologi ini bisa
diaplikasikan di kawasan perumahan yang 100% kedap air atau sama sekali tidak ada
tanah terbuka maupun di areal persawahan yang berlokasi di kawasan perbukitan.
Lubang sebaiknya dibuat di bagian tanah yang tidak terendam air atau lebih
tinggi dari saluran air. Jika lubang tersebut terendam air maka fauna tanah
seperti cacing, rayap, dan semut akan kekurangan oksigen. Selain itu,
menyebabkan hilangnya kemampuan meresapnya air karena sudah jenuh.
B. Tujuan
Mahasiswa/i dapat membuat lubang biopori untuk dapat
menimalisir banjir.
C. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
cara membuat lubang biopori ?
2. Mengapa
dibuat lubang biopori ?
3. Apa
manfaat yang didapat dari pembuatan lubang biopori ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Konservasi Air
Konservasi air erat kaitannya dengan
konservasi tanah, karena keduanya memiliki pengertian yang sama ialah
konservasi tanah dan air atau yang sering disebut pengawetan tanah merupakan
usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktifitas tanah,
kuantitas dan kualitas air. Apabila tingkat produktifitas tanah menurun,
terutama karena erosi maka kualitas air terutama air sungai untuk irigasi dan
keperluan manusia lain menjadi tercemar sehingga jumlah air bersih semakin
berkurang.
B.
Pengertian Biopori
Biopori adalah liang atau
terowongan-terowongan kecil di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas
perakaran tanaman dan berbagai fauna tanah, seperti cacing, rayap, semut, dan
lain-lain. Biopori yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat
lewatnya air di dalam tanah sehingga memperlancar peresapan air ke dalam
perkembangan akar tanaman serta populasi dan aktivitas fauna tanah.
Teknologi biopori disebut pula mulsa
vertikal, karena teknologi ini mengandalkan jasa fauna tanah seperti cacing dan
rayap untuk membentuk pori-pori alami di dalam tanah. Adanya sampah organik
menyebabkan air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki. Peningkatan jumlah
biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal ke dalam tanah, kemudian
diisi dengan bahan oganik. Bahan organik yang dimasukkan ke dalam lubang
tersebut dapat berupa sampah organik rumah tangga, daun-daun, potongan rumput,
atau vegetasi lainnya.
C.
Cara Membuat Lubang Biopori
1.
Membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah
dengan diameter 10 sampai 30 cm.
2.
Kedalaman lubang kurang lebih 100 cm atau tidak sampai
melampaui muka air tanah.
3.
Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm.
4.
Mulut atau pangkal lubang dapat diperkuat dengan adukan
semen selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang, supaya
tanah tidak jatuh ke dalam lubang (longsor).
5.
Potongan pipa paralon atau bambu betung berdiameter 10 cm
juga dapat digunakan sebagai penguat mulut lubang resapan biopori.
6.
Lubang diisi dengan sampah organik yang berasal dari sampah
dapur, sisa tanaman, dedaunan atau pangkasan rumput. Bila lubang yang dibuat
berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, setiap lubang dapat menampug kurang
lebih 7,8 liter sampah organik. Fauna tanah seperti cacing dan semut, akan
datang dengan sendirinya ke dalam lubang untuk mencari perlindungan dan bahan
makanan. Fauna tanah tersebut akan berkembang biak menciptakan biopori yang
dapat mempercepat laju peresapan air dalam lubang serta mempercepat perombakan
sampah organik menjadi kompos.
7.
Sampah organik perlu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya
sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
8.
Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap
akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
D.
Lokasi Pembuatan Lubang Biopori
Lubang biopori sebaiknya dibuat di
tempat-tempat dimana air akan terkumpul pada saat hujan. Air hujan
diarahkan sedemikian rupa sehingga mengalir ke lubang resapan biopori yang
dibuat. Sebagai kompensasi terhadap pengerasan atau bidang kedap yang berupa
bangunan, halaman yang diperkeras, jalan beraspal, atau bentuk-bentuk penutupan
permukaan tanah lainnya, lubang resapan biopori tidak hanya dibuat satu buah,
melainkan dibuat banyak. Lubang resapan biopori dapat dibuat pada :
·
Halaman Rumah:
Pembuatan lubang resapan biopori di
halaman selain memperhatikan unsur artistik atau keindahan, sebaiknya juga
memperhatikan unsur keamanan. Meskipun hanya berdiameter kecil (10 cm) tetapi
dapat menyebabkan kecelakaan, terutama bagi anak-anak. Lubang resapan biopori
dapat dibuat di pinggir halaman dimana air hujan dapat mengalir ke lubang yang
dibuat. Pembuatan lubang resapan biopori di halaman disesuaikan dengan kontur
tanah.
·
Taman Kota:
Lokasi pembuatan lubang biopori di
taman dapat dilihat pada contoh gambar di atas ini. Lubang resapan biopori
dibuat sesuai dengan kontur taman atau bisa pula dibuat di sekeliling pohon.
Pembuatan lubang resapan biopori mengelilingi pohon juga dapat berfungsi
sebagai pupuk organik bagi tanaman sekaligus meningkatkan ketersediaan cadangan
air sehingga akan menyuburkan tanaman.
·
Saluran Pembuangan Air:
Lubang resapan biopori juga dapat
dibuat pada saluran pembuangan air, sehingga saluran pembuangan air juga
berfungsi menjadi tempat peresapan air.
Pembuatan lubang resapan biopori sebaiknya disesuaikan dengan kontur tanah yang ada atau pada dasar alur-alur yang sengaja dibuat untuk mengumpulkan serta mengarahkan air masuk ke dalam lubang biopori. Pembuatan lubang resapan biopori pada dasar alur tersebut juga cenderung lebih aman karena pada umumnya manusia tidak suka berjalan melewati daerah alur, sehingga dapat menghindari kaki terperosok ke dalam lubang.
Pembuatan lubang resapan biopori sebaiknya disesuaikan dengan kontur tanah yang ada atau pada dasar alur-alur yang sengaja dibuat untuk mengumpulkan serta mengarahkan air masuk ke dalam lubang biopori. Pembuatan lubang resapan biopori pada dasar alur tersebut juga cenderung lebih aman karena pada umumnya manusia tidak suka berjalan melewati daerah alur, sehingga dapat menghindari kaki terperosok ke dalam lubang.
E.
Jumlah Lubang Resapan Biopori (LRB) yang Diperlukan
Jumlah lubang yang perlu dibuat
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
Pada 100 m2 bidang kedap
dengan intensitas hujan lebat 50 mm/jam dan laju peresapan air per lubang 3
l/menit atau 180 l/jam, perlu dibuat lubang resapan biopori sebanyak (50 x
10)/180 atau 28 lubang.
Apabila lubang biopori dibuat dengan
diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm, maka setiap lubang dapat menampung sampah
organik lebih kurang 7,8 l. Setiap lubang dapat diisi sampah organik selama 2
sampai 3 hari. Dengan demikian 28 lubang yang dibuat tersebut baru dapat
dipenuhi sampah organik selama 56 sampai 84 hari.
Dalam selang waktu tersebut, lubang
biopori yang diisi sampah organik awal sudah menjadi kompos dan siap untuk
dipanen. Setelah diambil komposnya, lubang biopori tersebut dapat diisi lagi
dengan sampah organik baru, begitu seterus
F.
Manfaat Tekhnologi Biopori
Setelah lubang biopori dibuat segala
manfaat dapat dicapai, antara lain:
1.
Meningkatkan daya peresapan air dan cadangan air tanah.
Pembuatan lubang resapan biopori
akan memperluas bidang permukaan peresapan air seluas
permukaan dinding lubang.
Suatu permukaan tanah berbentuk
lingkaran dengan diameter 10 cm yang semula mempunyai bidang permukaan resapan
79 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas
bidang resapannya menjadi 0,3 m2. Terjadi pertambahan luas bidang peresapan
sampai 40 kali. Permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diameter 100 cm yang
semula mempunyai bidang permukaan bidang resapannya menjadi 3,14 m2. Terjadi
pertambahan luas bidang peresapan 4 kali.
Diameter lubang yang kecil akan
mempunyai pertambahan luas bidang peresapan yang lebih besar sehingga lubang
resapan biopori dibuat dengan diameter kecil. Lubang resapan biopori yang
dibuat dengan diameter kecil akan mengurangi beban resapan, sehingga laju
peresapan air dapat dipertahankan. Beban resapan adalah volume air yang masuk
ke dalam lubang dibagi luas permukaan resapan (dinding dan dasar lubang).
Peningkatan diameter lubang
meningkatkan beban resapan dan mengurangi pertambahan luas bidang resapan.
Kombinasi antara luas bidang resapan dan adanya biopori secara bersama-sama
akan meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Peresapan air hujan ini
selain dapat mencegah banjir juga dapat meningkatkan cadangan air tanah.
2.
Mengubah Sampah Organik menjadi Kompos
Setiap rumah tangga akan
menghasilkan sampah organik yang berupa sampah dapur atau sampah tanaman
pekarangan yang dapat dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori. Sampah
organik ini merupakan sumber energi dan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh
biota tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses
dekomposisi. Sampah yang telah
didekomposisi ini dikenal sebagai kompos. Melalui proses dekomposisi, lubang
resapan biopori akan berfungsi sekaligus sebagai tempat pembuatan kompos.
Kompos yang dihasilkan dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman.
3.
Mengurangi emisi CO2 dan Metan
Sampah organik yang berupa rumput,
daun-daun kering dan ranting-ranting sisa tanaman kaya akan sumber karbon.
Pembakaran sampah organik akan meningkatkan emisi gas-gas seperti CO2
dan metan yang merupakan salah satu penyusun gas rumah kaca. Disinyalir
peningkatan emisi gas tersebut ke atmosfir merupakan salah satu penyebab utama
adanya pemanasan global yang ramai dibicarakan saat ini. Pembuangan sampah
organik ke dalam lubang resapan biopori dapat memfungsikan tanah kembali
sebagai penyimpan karbon, sehingga dapat mengurangi emisi karbon ke atmosfir.
Karbon yang tersimpan di dalam tanah dalam bentuk humus tidak akan mudah
diemisikan, bahkan dapat memelihara kesuburan tanah.
4.
Mengatasi penyebab penyakit yang ditimbulkan oleh adanya
genangan air.
Permukaan tanah terbuka yang terkena
sinar matahari akan ditumbuhi lumut yang dapat menyumbat pori, apalagi di
daerah pemukiman yang banyak dipenuhi bangunan. Hal ini akan mengakibatkan air
tidak dapat meresap ke dalam tanah. Air yang tidak meresap ke dalam tanah akan
menimbulkan genangan air.
Adanya genangan air yang terus
menerus ini merupakan habitat yang baik bagi berkembang biaknya berbagai jenis
nyamuk yang dapat menjadi pembawa penyakit, seperti malaria dan demam berdarah
dengue. Pembuatan lubang resapan biopori dapat meresapkan genangan air
tersebut, sehingga mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk.
BAB III
PENUTUP
Biopori adalah liang atau
terowongan-terowongan keil di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas
perakaran tanaman dan berbagai fauna tanah, seperti cacing, rayap, dan semut.
Teknologi biopori bermanfaat untuk meningkatkan daya peresapan air dan cadangan
air tanah, mengubah sampah organik menjadi kompos, mengurangi emisi CO2 dan
metan, serta mengatasi penyebab penyakit yang ditimbulkan oleh adanya genangan air.
Peningkatan biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal di dalam
tanah yang diisi dengan sampah organik. Lubang resapan biopori dapat dibuat di
halaman, taman, ataupun saluran air
DAFTAR
PUSTAKA
- Anonim 1. 2007. Atasi masalah lingkungan dalam skala rumah tangga dengan lubang resapan biopori. Jakarta: Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup daerah (BPLHD) Kotamadya Jakarta Selatan.
- Anonim 2. 2008. Bumiku panas. http:wongtmgloveaworld.blogspot.com. Diakses 4 April 2008.
- Anonim 3. 2008. Biopori, teknologi tepat guna ramah lingkungan. http://biopori.com. Diakses 4 April 2008.
- Anonim
4. 2007. Lubang Mini Penyerap Air.
http://www.ampl.or.id/detai/detail01.php?tp=artikel&jns=wawasan&kode=1674.
Diakses 04 Juni 2008. - Anonim
5. 2008. Lubang resapan biopori kurangi banjir. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0704/09/ipt02.html.
Diakses 4 April 2008. - Dodo.
2007. Arsitek pakailah biopori!, http://suparlan.com.
Diakses 20 Maret 2008. - Kamir R. 2007. Pelestarian lingkungan hidup dengan teknologi tepat guna lubang resapan biopori. Dalam: Acara Pelestarian Lingkungan Hidup melalui Program Lubang Resapan Biopori di SMP Negeri 68, Jakarta 24 Desember 2007.
|
|
EmoticonEmoticon